Senin, 17 Mei 2010

Properti AS Belum Sepenuhnya Siuman

INILAH.COM, Jakarta – “Mr President, Saya sangat membutuhkan pekerjaan dan gaji tetap.” Itulah isi reklame menyambut kedatangan Obama ke Buffalo, New York. Sektor properti dinilai belum berhasil menyerap tenaga kerja.
Dalam bahasa Inggris, reklame itu berbunyi: Dear Mr. President, I need a freakin job. Period. Sincerely, inafj.org. Tulisan itu, tepat menyambut kedatangan Obama ke Buffalo , New York untuk mengungkapkan kesuksesan pemerintah menciptakan lapangan kerja baru. Obama juga akan mengungkapkan bahwa dirinya sudah meminta persetujuan kongres atas kredit sebesar US$30 miliar bagi pertumbuhan usaha kecil.
Para kritikus menilai, upaya Obama memfokuskan pada pemulihan masih terbatas dan belum mampu memberi pekerjaan pada masyarakat. Hal itu terbukti dari data tenaga kerja terbaru yang menunjukkan bahwa 9,9% penduduk AS masih kehilangan pekerjaan.
Hal ini pun menginspirasi sekelompok warga pengangguran Buffalo , yang juga memiliki situs di internet www.inafj.org. Mereka mengajukan gugatan kepada Obama dalam bentuk pesan papan iklan di sepanjang rute iring-iringan mobil itu menuju kota .
Pengamat ekonomi David Sumual mengatakan, dari sisi jumlah pengangguran (unemployment) di AS, saat ini sudah kritis (freakin). Sebab, pada Januari 2009, angka pengangguran AS 9,7% tapi, April 2010, angka pengangguran kembali naik ke angka 9,9%.
“Angka ini memang sudah lebih rendah dari angka pengangguran tertinggi di level 10,2% pada Oktober 2009,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Jumat (14/5). Namun, David mengakui, angka pengangguran sudah mengalami perbaikan meski belum pulih sepenuhnya.
Semula pengangguran diharapkan sedikit teratasi dengan bangkitnya sektor properti. Namun sektor properti belum kembali normal seperti sebelum krisis 2008 lalu.
Artinya, buble-nya ekonomi di sektor properti masih terasa hingga kini. “Padahal, sektor properti paling banyak menyerap tenaga kerja mulai dari konstruksi hingga pemasarannya,” ungkap David.
Begitu juga dengan sektor industri yang berhubungan dengan properti (property related industry). Industri ini juga banyak menyerap tenaga kerja. Hal ini berimbas pada terhambatnya pertumbuhan di sektor manufaktur.
“Karena itu, tenaga kerja membaik tapi belum kembali ke level di awal 2008 (Januari hingga sebelum pecah krisis di Oktober) yang tingkat penganggurannya hanya 4,5-5%,” imbuhnya.
Padahal, dari sisi sektor finansial, AS sudah pulih. Buktinya, bursa Dow Jones sudah kembali ke posisi sebelum krisis 2008. Bahkan sempat mencapai level 11.000. Ini berbeda dengan sektor riillnya yang belum banyak bergerak. Hal ini terlihat dari masih rendahnya harga properti dan stagnannya sektor manufaktur. “Walaupun naik, tapi belum kembali ke angka 2008,” tandasnya.
Harga properti terlihat dari data terbaru Case Schiller Index. Pada Januari 2010, harga properti sudah membaik tapi masih minus 0,7% (year on year) dibandingkan periode yang sama di 2009 yang minus 20%.
Sedangkan indeks harga properti, Januari 2010 memburuk ke level 145,3 dibandingkan periode yang sama di 2009 di level 146,3. Padahal, pada Desember 2008, berada di di angka 150,5. Ini masih jauh dari normal. Sebab, sebelum krisis indeks harga properti sempat mencapai level 200. “Case Schiller Index menghimpun harga properti di 20 kota terbesar di AS,” ungkapnya.
Data-data itu menurut David menandakan, masyarakat AS bangkrut. Akibatnya, penjualan rumah lebih banyak daripada pembelian sehingga harganya menjadi minus. Keadaan ini terjadi karena mereka tidak memiliki pekerjaan. “Mereka tidak bisa membayar cicilan rumah dan properti mereka ke bank sehingga diambil alih (disita) bank atau dijual murah,” imbuh David. [mdr]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar